Lovely Blog

.

cursor

Jumat, 02 Januari 2015

Proposal Penelitan Kuantitatif


HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DAN PRESTASI BELAJAR
MAHASISWA S1 JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
ANGKATAN 2013
 
PROPOSAL PENELITIAN KUANTITIF

disusun guna memenuhi tugas mata Metodologi Penelitian Pendidikan.
Dosen Pengampu : 1. Dra. M.Th. Sri Hartati, M.Pd.
                                                                    2. Edwindha Prafitra Nugraheni, S.Pd., Kons.





Diusulkan oleh :
Imamma Anindita (1301413085)





JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014

A.    Judul
Hubungan antara Tingkat Kepercayaan Diri dan Prestasi Belajar Mahasiswa BK S1 UNNES Angkatan 2013
B.     Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses yang berlangsung sepanjang hayat. Menurut Suyono dan Hariyanto, belajar adalah suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian. Sedangkan menurut Rifki (dalam Andriyani) setiap individu memiliki lingkungan dan latar belakang yang berbeda-beda sehingga hal itu mempengaruhi kepribadian dan pembentukan rasa percaya dirinya serta berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan rasa percaya diri, individu akan mudah berinteraksi didalam lingkungan belajarnya. Seperti yang dikemukakan oleh Bandura (1977), kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa  dirinya mampu berperilaku seperti yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Dengan demikian hal ini tentu dapat membantu proses belajarnya. Namun, tidak semua orang memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi. Sebagian orang justru rendah diri, minder, malu, sungkan, dll. Perasaan inilah yang dapat mengganggu proses belajarnya karena perasaan-perasaan ini dapat membuat seseorang tidak yakin dengan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya sehingga lebih menutup diri dan kurang mendapat informasi langsung yang dibutuhkan.
Dalam kehidupan mahasiswa khususnya jurusan BK UNNES angkatan 2013, rasa kurang percaya diri menghambat proses belajar mereka. Dengan rasa malu ataupun minder, mahasiswa berarti berpikiran negative terhadap dirinya sendiri. Mahasiswa yang sering berpikiran bahwa dirinya tidak mampu bersaing dengan temannya akan menghambat proses belajarnya karena tidak dapat berkomunikasi dengan baik sehingga potensi yang mereka miliki tidak dapat berkembang secara optimal.
Dengan keadaan tersebut, mahasiswa akan kehilangan peluang untuk meraih prestasi belajarnya serta enggan untuk memulai hal baru karena mereka sangat takut dan ragu untuk menghadapi tantangan serta selalu berpikiran bahwa dirinya tidak akan mampu menghadapi tantangan. Sikap pesimis mereka lebih besar dari sikap optimisnya.
Harjati ( 2008: 43 ), menyatakan bahwa prestasi merupakan hasil usaha yang dilakukan dan menghasilkan perubahan yang dinyatakan dalam bentuk simbol untuk menunjukkan kemampuan pencapaian hasil kerja dalam waktu tertentu. Dengan kata lain untuk mencapai prestasi diperlukan usaha-usaha yang sesuai dengan apa yang akan dicapai. Mahasiswa pun pastilah ingin mencapai prestasi belajar yang diinginkan. Setiap mahasiswa pasti punya cara sendiri untuk mencapainya. Salah satu caranya adalah dengan aktif mengikuti pembelajaran. Untuk menjadi mahasiswa aktif, seseorang  memerlukan kepercayaan diri yang mendukungnya. Namun, seperti yang dikatakan sebelumnya, tidak semua mahasiswa dapat mengoptimalkan rasa percaya diri mereka untuk mendukung tercapainya prestasi karena masih banyak lagi faktor yang menentukan tercapainya prestasi. Untuk itu, dari uraian diatas penulis bermaksud meneliti apakah ada hubungan yang signifikan antara tingkat kepercayaan diri dan prestasi belajar mahasiswa BK S1 UNNES angkatan 2013.

C.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, Maka rumusan masalah dalam penulisan ini adalah apakah ada hubungan antara tingkat kepercayaan diri dan prestasi belajar mahasiswa BK S1 UNNES angkatan 2013?

D.    Tujuan
Yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah ingin mengetahui hubungan antara tingkat kepercayaan diri dan prestasi belajar mahasiswa BK S1 UNNES angkatan 2013.

E.     Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat memberi jawaban mengenai adanya hubungan antara tingkat kepercayaan diri dan prestasi belajar mahasiswa BK S1 UNNES angkatan 2013, sehingga mempunyai manfaat sebagai berikut:
1.      Manfaat Teoritis
Sebagai sarana untuk mengaplikasikan teori-teori mengenai kepercayaan diri dan prestasi belajar.

2.   Manfaat Praktis
a. Manfaat bagi Penulis
1) Memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian
2) Melatih kemampuan membuat penelitian
b. Manfaat bagi Pembaca
1) Sebagai tambahan informasi mahasiswa untuk mengetahui hubungan 
antara tingkat kepercayaan diri dan prestasi belajar.
2) Sebagai tambahan informasi bagi praktisi pendidikan dan bahan
perbandingan dan tambahan literature.
F.      Landasan Teori
1.      Prestasi Belajar Mahasiswa
a.       Konsep Prestasi Belajar
Djamarah (1994: 23) mendefinisikan prestasi belajar sebagai hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Pernyataan ini didukung oleh Sumadi Suryabrata (2006: 25), yang menyatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai dari suatu latihan, pengalaman yang harus didukung oleh kesadaran. Hal senada dikemukakan Winkel (2004: 15) bahwa prestasi belajar adalah hasil usaha yang dapat dicapai siswa setelah melakukan proses belajar yang berlangsung dalam interaksi subjek dengan lingkungannya yang akan disimpan atau dilaksanakan menuju kemajuan. Dengan kata lain prestasi belajar memerlukan latihan melalui proses belajar untuk mencapainya.
Sedangkan, Nasution (2010: 17) menjelaskan lebih rinci bahwa prestasi belajar adalah kesempurnaan dicapai seseorang dalam berfikir, merasa serta berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni kognitif, affektif maupun psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut.
Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan usaha sadar untuk mencapai kesempurnaan kognitif, afektif maupun psikomotorik, yang dilakukan melalui proses belajar.

b.      Faktor-faktor penyebab prestasi belajar tinggi
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar menurut Purwanto (1990: 102) antara lain: (1) faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang dapat disebut faktor individual, seperti kematangan/pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi, (2) faktor yang ada di luar individu yang disebut faktor sosial, seperti faktor keluarga/keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat- alat yang dipergunakan dalam belajar-mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia, dan motivasi sosial. Juga dikatakan oleh Slameto (2003: 54-70) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern diklasifikasi menjadi tiga faktor yaitu: faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan. Faktor jasmaniah antara lain: kesehatan, dan cacat tubuh. Faktor psikologis antara lain: inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan. Faktor kelelahan antara lain: kelelahan jasmani dan rohani. Sedangkan faktor ekstern digolongkan menjadi tiga faktor yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat. Faktor keluarga antara lain: cara orang tua mendidik, relasi antara keluarga, suasana rumah tangga, dan keadaan ekonomi keluarga. Faktor sekolah antara lain: metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah. Faktor masyarakat antara lain: kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat. Selanjutnya Dalyono (2005: 55-59) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua faktor yaitu: faktor internal (yang berasal dari dalam diri) dan faktor eksternal (yang berasal dari luar diri). Faktor internal termasuk: kesehatan, inteligensi dan bakat, minat, dan motivasi, cara belajar, sedangan faktor eksternal termasuk: keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan sekitar.

c.       Ciri-ciri Prestasi Belajar
Djamarah (1994:24} mengungkapkan pengertian karakteristik prestasi belajar sebagai berikut :
1)      Prestasi belajar merupakan tingkah laku yang dapat diukur. Untuk mengukur tingkah laku tersebut dapat digunakan tes prestasi belajar.
2)      Prestasi menunjuk kepada individu sebagai sebab, artinya individu sebagai pelaku.
3)      Prestasi belajar dapat dievaluasi tinggi rendahnya, baik berdasarkan atas kriteria yang ditetapkan terlebih dahulu atau ditetapkan menurut standar yang dicapai oleh kelompok.
4)      Prestasi belajar menunjuk kepada hasil dari kegiatan yang dilakukan secara sengaja dan disadari.

2.      Tingkat Kepercayaan Diri
Lauster (1978), mengungkapkan ciri-ciri orang yang percaya diri adalah: mandiri, tidak mementingkan diri sendiri, cukup toleran, ambisius, optimis, tidak pemalu, yakin dengan pendapatnya sendiri dan tidak berlebihan. Sementara itu Taylor dkk (1986) mengatakan bahwa orang yang percaya diri memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri. Meskipun kepercayaan diri diidentikan dengan kemandirian, orang yang keper-cayaan dirinya tinggi umumnya lebih mudah terlibat secara pribadi dengan orang lain dan lebih berhasil dalam hubungan interpersonal (Goodstadt & Kipnir, dalam Bunker dkk, 1983). Menurut Lauster (1978), rasa percaya diri bukan merupakan sifat yang diturunkan (bawaan) melainkan diperoleh dari pengalaman hidup, serta dapat diajarkan dan ditanamkan melalui pendidikan, sehingga upaya-upaya tertentu dapat dilakukan guna membentuk dan meningkatkan rasa percaya diri. Dengan demikian kepercayaaan diri terbentuk dan berkembang melalui proses belajar di dalam interaksi seseorang dengan lingkungannya. Permasalahan utama dalam kecemasan komunikasi interpersonal adalah adanya rasa khawatir tentang respon atau penilaian orang lain terhadap dirinya, yaitu mengenai apa yang disampaikannya dan bagaimana ia menyampaikannya. Ketergantungan terhadap penilaian orang lain ini merupakan salah satu ciri dari orang yang kurang percaya diri (Lauster, 1978). Menurut Krech (1962), bagaimana cara seseorang menghadapi orang lain dipengaruhi oleh bagaimana ia memandang dirinya. Respon-respon interpersonal seseorang sering merupakan refleksi dari kognisinya terhadap diri sendiri.
G.    Kerangka Berpikir
Seperti yang telah dibahas diatas prestasi belajar merupakan usaha sadar untuk mencapai kesempurnaan kognitif, afektif maupun psikomotorik, yang dilakukan melalui proses belajar. Sedangkan kepercayaan diri Menurut Lauster (2002:4) merupakan suatu sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri sehingga dalam tindakan-tindakannya tidak terlalu cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan tanggung jawab atas perbuatannya, sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan prestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Dari pengertian ini dapat dihubungkan bahwa kepercayaan diri memberikan dorongan untuk mencapai prestasi dan yang dibahas disini yaitu prestasi belajar. Selain itu factor dan ciri-ciri prestasi belajar diatas juga mendukung adanya hubungan antara kepercayaan diri mahasiswa dengan prestasi belajar mereka. Jadi, dapat dikatakan jika mahasiswa percaya diri, maka prestasi belajarnya akan tinggi.
H.    Hipotesis
Tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat kepercayaan diri mahasiswa meningkatkan prestasi belajarnya. Karena dengan percaya diri, mereka mampu mengenal lingkungan belajarnya dengn baik sehinga mereka dapat berkembang secara optimal. Menurut Ubaedy (2011: 33) Kepercayaan diri juga terkait dengan kemajuan seseorang dibidang yang ia geluti, banyak studi pendidikan yang mengungkapkan bahwa tingkat kepercayaan diri seseorang terkait dengan bagaimana dia menangkap pengetahuan atau mengatasi kesulitan belajar. Jadi, dapat dikatakan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara tingkat kepercayaan diri dan prestasi belajar mahasiswa BK S1 UNNES angkatan 2013.
I.       Metode Penelitian
1.      Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian korelasional karena digunakan untuk mengetahui hubungan dua variable tanpa ada upaya untuk mempengaruhi variable tersebut sehingga tidak terdapat manipulasi variable.
a.       Variabel Penelitian
1)      Identifikasi Variabel
Dalam penelitian ini menggunakan dua buah variable yaitu variable terikat dan variable bebas.
2)      Hubungan Variabel
Hubungan yang terjalin diantara kedua variable yaitu bersifat simetris karena muncul diantara dua variable atau lebih secara bersamaan. Jadi disini antara prestasi belajar dan kepercayaan diri muncul bersamaan.
3)      Definisi Operasional Variabel
Dalam penelitian ini menggunakan dua buah variable yaitu variable terikat dan variable bebas. Yang menjadi variabel terikat disini yaitu prestasi belajar, sedangkan yang menjadi variable bebas yaitu kepercayaan diri.
b.      Populasi dan Sampel Penelitian
Dalam Sugiyono (2013:117), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi, populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek yang diteliti itu. Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksudkan populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan siswa yang dijadikan sebagai sumber data dalam penelitian.  Adapun populasi penelitian ini adalah mahasiswa BK UNNES angkatan tahun 2013.

Dalam Sugiyono (2013:118), sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel adalah kelompok kecil yang secara nyata diteliti dan ditarik kesimpulan (Nana Syaodih Sukmadinata, 2009). Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sampel yang dimaksud dalam penenlitian ini adalah sebagian dari jumlah keseluruhan mahasiswa BK UNNES angkatan 2013 yang dijadikan sebagai sumber data dalam penelitian.

c.          Metode dan Alat Pengumpulan Data
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Untuk menguji variable bebas penelitian ini menggunakan angket langsung bentuk tertutup, responden menjawab sendiri butir pertanyaan yang sudah tersedia jawabannya. Sedangkan untuk variable terikat peneliti menggunakan nilai hasil belajar mahasiswa sejak semester satu sampai semester tiga.

d.      Validitas dan Reliabilitas Data
Validitas data adalah mengukur apa yang seharusnya diukur, dalam penelitian ini yang diukur adalah seberapa besar kepercayaan diri mahasiswa dan prestasi balajar mahasiswa. Sedangkan realibilitas data adalah taraf keajegan dari hasil penelitian dimana dari hasil penelitian ini dapat dipakai jika kondisi dari sampel dapat mewakili seluruh populasi.

e.       Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan cara mengkorelasikan hasil pengukuran suatu variable dengan hasil pengukuran variable lain. hasilnya di dilaporkan dalam bentuk nilai koefisien korelasi koefisien regresi serta tingkat signifikasinya, disamping proporsi variansi yang disumbangkan variable bebas terhadap variable terikat.
J.       Daftar Pustaka
Hadi, Sutrisno. 2000. Statistik Jilid 2. Yogyakarta: Andi.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2013. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta
Siska, dkk. 2003. Jurnal Kepercayaan Diri dan Kecemasan pada Mahasiswa. Yogyakarta: Universitas Gajahmada.
Andriyani, Lilis. 2013. Jurnal 



0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar dengan sopan. Terimakasih. :)