Lovely Blog

.

cursor

Jumat, 02 Januari 2015

Novel Mingguan

Sebuah novel karya Imamma Anindita, selamat membaca...
Malaikatku
(Bagian 1)
Saat kubuka mata, gelap masih menerpa. Sang penguasa siang belum muncul untuk menerangi langkah manusia yang tak sama. Seperti biasa kata syukur terucap dimulut kecilku atas anugerah Tuhan yang tak pernah putus menghujaniku, atas kesempatan yang Ia berikan padaku sampai hari ini. “Toktoktok…” tiba-tiba suara ketukan pintu mengagetkanku. “Anisa, ayo bangun. Shalat subuh dulu”. Ternyata suara itu berasal dari sang pemilik kunci menuju pintu terindah kehidupan ini, Ibu. Lega mendengar suaranya yang lembut dan menyejukkan itu. “Baik, bu. Anisa akan segera menyusul” jawabku tergesa-gesa sambil bangun dan merapikan tempat tidurku yang selalu memberiku kenyamanan disaat sang malam datang. Sambil tersenyum dan menepuk, kuucucapkan “Makasih ya mbem”. Mbem sebutanku untuk tempat tidurku. Memang kebiasaanku selalu memberikan nama pada setiap barang yang aku punya.
Dengan tergesa-gesa aku menyusul ibu ke surau kecil yang berada didekat rumah kami. Ibuku memang malaikat tanpa sayap yang diciptakan Tuhan untuk membimbingku selalu dijalannya. Beliau tanpa lelah menyayangiku, mengawasiku, menuntunku untuk selalu dijalannya. Aku selalu bergantung padanya. Sampai tak pernah berani untukku membayangkan hal buruk akan terjadi padanya.

Aku berdiri disamping ibuku untuk menunaikan kewajiban yang membuat kita manusia berada disini, beribadah. Rasanya nyaman sekali setelah selesai memohon segala tetek bengek harapan di kehidupan dunia dan akhirat kepada Yang Maha Kuasa, kucium tangan pekerja keras yang sedikit kasar itu. Hal ini selalu kami lakukan setelah shalat berjamaah. Tapi, entah mengapa kali ini sangat berbeda. Rasanya ingin lebih lama lagi kucium tangan yang telah membatuku dalam banyak hal itu. Tapi ibu menarik tangannya perlahan. Mungkin ingin melanjutkan doanya kepada Tuhan yang terhenti karna aku meminta bersalaman tadi. Aku pun tersenyum kepadanya dan dibalas dengan senyumannya yang sangat manis. Lalu kami melanjutkan berdzikir bersama.
Bersambung….

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar dengan sopan. Terimakasih. :)